Mungkin
kejadian ini baru saja terjadi kepada saya. Beberapa bulan yang lalu saya
bertemu dengan seorang teman lama yang sudah lama tidak bertemu sejak pertemuan
pertama kali saat saya masih SMK. Kami sempat ngobrol banyak, saling sharing,
dan keluar bareng untuk sekedar makan atau nongkrong. Akan tetapi Seminggu kita
aktif ngobrol, tiba-tiba dia menghilang.
Bahkan
dia menghilang sebelum saya meminta maaf kepada dia. Minta maaf apa? Sepertinya
saya telah melakukan kesalahan. Ada maksud atau tujuan yang saya sampaikan
kepadanya, akan tetapi maksud dan tujuan itu saya utarakan tidak tepat pada
waktunya. Entah itu telah melukai perasaannya, atau apalah namanya sehingga dia
tiba-tiba menghilang.
Dia
juga menghilang sebelum saya berterima kasih kepada dia. Berterima kasih
tentang apa? Ada satu kata-kata dia yang sungguh benar-benar membuat saya
“makjleb” banget, dan dengan kata2 itu saya setidaknya belajar menjadi orang
yang lebih baik lagi. Perkataan apa?
Hanya 2 kalimat sih. tapi efeknya bung, kayak ditampol. “irfan, kamu sering2
baca buku. Biar ga tong kosong”.
2
kalimat keramat yang efeknya ada 2. Satu itu makjleb banget. Satu lagi nikmat.
Kok bisa nikmat fan? Iya jelas nikmat, jika dipikir, tanpa dia berkata itu, apa
aku bisa introspeksi diri? Apa aku bisa dapat pelajaran? Belum tentu, bisa saja
tidak malah. Jadi nikmatnya itu berupa rasa syukur karena kita ini masih bisa
diingetin. Diingetin didunia itu lebih enak dripada diingetin pas udah dalam
kubur. Klo diingetin pas didunia, kta bisa ngerubah dan menjalaninya. Klo udah
didalam kubur, kita ga bisa apa2 euy.
Maka
dari itu, jagalah sahabatmu. Jagalah perasaan dan hatinya. Jangan sampai kalian
kehilangan satu saja sahabat yang bisa jadi dia juga sebagai guru kehidupanmu.
Nitip
sebuah pesan ya untuk sahabatku yang aku ceritakan diatas.
“Untuk sahabatku, sungguh saya meminta maaf
atas niatan yang mungkin membuat sakit hati atau sesuatu yang tak mengenakkan
bagimu.
Dan saya berterima kasih atas
kalimatmu yang dari itu, saya sungguh benar-benar belajar, saya benar benar
membuka mata agar bisa memulai menatap jendela dunia.
Aku berdoa semoga dari apa yang
saya baca (semoga itu ada kebaikan didalamnya) dan saya amalkan, pahalanya akan
mengalir kepadamu. Dan semoga suatu saat kita dipertemukan kembali pada waktu
dan tempat yang lebih baik. Tapi apabila kita tidak dipertemukan, kau akan
tetap menjadi seorang teman dan sahabat yang akan selalu aku ingat karena
kebaikanmu kepadaku.”
Matur
nuwun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar