Senin, 21 September 2015

tak hanya Sabar, Menjaga Perasaan Orang Lain juga belajarnya Seumur Hidup

sebelumnya saya hanya menggarisbawahi bahwa tulisan ini hanya sebatas opin atau pemikiran subjektif saya sendiri. jika ada kekurangan maupun kesalahan, mohon untuk tidak segan2 memberikan saran di kolom komentar yaa :)
oke.
Bismillah,
Beberapa waktu yang lalu sering saya jumpai
di bbm pada pada update gambar seperti ini:

juga pada update di segala sosial media.

Tulisan dari gambar tersebut memang benar, 100% benar. Sabar memang ilmu yang sangat susah untuk dijalani, apalagi di tanamkan dalam kehidupan sehari-hari sampai mati. susaaaahhh. Sebagai umat manusia, kita memang dianjurkan untuk menahan diri dari amarah, kesal, atau sikap tak baik lainnya yang disebabkan oleh orang lain atau yang mengarah ke orang lain. Susah, memang susah untuk menahan hal tersebut.

Selain Sabar, ada juga hal yang menurut saya belajarnya juga setiap hari, latihannya setiap saat, ujiannya sering mendadak, sekolahnya juga seumur hidup, yaitu "Menjaga Perasaan Orang Lain". Pikiran ini timbul saat saya sedang potong rambut di salah satu tempat pangkas rambut didekat rumah saya, di tembok tempat pangkas rambut tersebut ada banyak tulisan yang berisi tentang motivasi, pengingat diri, ataupun tulisan tentang islami lainnya. Ada satu tulisan yang membuat saya merasa makjleb (bussett gue kesindir banget nihh), hehehhhe  kata2 tersebut yaitu "Jangan Lupa Menjaga Perasaan Orang Lain". 

Kebanyakan atau mayoritas orang (termasuk saya) lupa atau terlalu sibuk memikirkan hal lain sehingga mengesampingkan untuk menjaga perasaan orang lain. Mulai dari saat ngobrol, saat bertelepon, atau saat sedang berkumpul dengan teman, keluarga, atau siapapun di tempat umum. Terkadang kita tidak memikirkan apa yang kita bicarakan itu apakah nantinya meninmbulkan efek positif ataukah negatif terhadap orang lain. 

Karena dulu saya sering main ke Rumah Sakit (hanya main, bukan karena saya sedang sakit, hehehhe), saya seringkali melihat beberapa pembicaraan yang mengusik hati (ceeeilleeehhh). misal, saat teman kita yang mempunyai berat badan berlebih sedang mengantuk atau sering mengantuk, kata apakah yang akan kita ucapkan kepada dia? "wah diabetes itu" ataukah " coba sering jalan kaki, mungkin itu efek habis makan".
bila kita berada pada posisi orang yang mengantuk tadi, dan teman kita mengatakan bahwa penguapan kita tadi adalah gejala diabetes,, apakah ga makjleb banget di perasaan kita? akankah kita jadi takut terkena diabetes?

Contoh lagi (contoh ini bersumber dari ceramah Kyai Anwar Zahid). Misal kita sedang menjenguk seseorang yang sedang sakit parah, ada yang bilang "Hati-hati lho buk/pak, tetangga saya yang sakitnya seperti anda, sakitnya tambah parah, seminggu lalu meninggal", ada juga yang bilang "Sabar buk/pak, minum obat yang rajin, tetangga saya kemaren sakitnya lebih parah dari anda, bisa sembuh kok".

dari 2 contoh diatas, meskipun sebenarnya kita tahu secara pasti/ hanya menebak saja bahwa mudah ngantuk adalaah gejala dari penyakit diabetes, dan penyakit parah orang tersebut tidak bisa disembuhkan dan hanya menunggu keajaiban Tuhan, tidak sepantasnya kita ucapkan. meskipun hal tersebut benar, jika kita ucapkan nantinya akan menyakitkan atau membuat orang lain merasa rendah diri, takut, lebih baik katakan sesuatu yang bisa menyenangkan mereka atau setidaknya membuat mereka menjadi percaya diri.

Dalam agama islam, setiap muslim juga dianjurkan untuk berhusnudzan kepada orang lain dan atau menjaga orang lain husnudzan kepada diri mereka sendiri. 

Imam Nawawi dalam syarah hadist Arba’in menjelaskan tentang hadist di atas dimana beliau menukil perkataan Imam Syafi’i: “Maksudnya jika hendak berbicara, maka hendaklah ia berfikir dahulu, jika bicaranya tidak akan menimbulkan mudarat, hendaklah ia bicara. Namun jika bicaranya akan mendatangkan kemudaratan, hendaklah ia diam saja.”
Imam Ibnu Hibban pun berkata: “Orang yang berakal budi wajib hukumnya untuk lebih banyak diam, kecuali dia yakin bahwa dia memang harus bicara.” (Raudhatul Uqala wa Nuzhatul; Fudhala, hal. 45)

Menjaga perasaan orang lain juga susah seperti sabar dan ikhlas, belajarnya seumur hidup. Maka dari itu kita harus mewanti-wanti atau setidaknya menanamkan mindset bahwa perkataan itu bisa lebih tajam dripada pisau. Menghargai perasaan orang lain bukan berarti kita harus setuju dengan apa yang dikatakan atau dikerjakan orang lain. Menghargai perasaan orang lain secara sederhana bisa dilakukan dengan mengatur ataupun memperbaiki cara kita menanggapi, mendengan, dan memberi perhatian/saran terhadap apa yang diceritakan atau dikerjakan orang tersebut.

Semoga dari tulisan atau opini saya ini bisa menjadikan sahabat-sahabat dan diri saya sendiri lebih berhati-hati dalam bertindak, berucap, ataupun berperilaku. 
:)
wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar